Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryDec 12, '06 10:48 PM
for everyone

Penduduk Lampung terdiri dari hampir semua suku yang ada di Indonesia. Gambaran ini ditunjukkan oleh semboyan yang tertera pada lambang daerah yaitu “Sang Bumi Ruwai Jurai”, dan Propinsi Lampung sendiri dijuluki Propinsi “Sang Bumi Ruwai Jurai”. “Sang Bumi” berarti rumah tangga agung yang luas serta berbilik-bilik, sedangkan "Ruwa Jurai” berarti dua golongan masyarakat yang berdiam di wilayah Propinsi Lampung, yaitu golongan keturunan Lampung asli dan golongan keturunan pendatang.

Penduduk Lampung asli terdiri dari masyarakat Lampung beradat Pepadun dan masyarakat Lampung beradat Saibatin (Peminggir) . Sedangkan pendatang adalah mereka yang umumnya berasal dari Jawa dan Bali yang bertransmigrasi sejak jaman Belanda. Namun kini pendatang itu tidak hanya dari Jawa dan Bali saja, tetapi hampir segala suku yang ada di Indonesia ada di propinsi ini .

Arsitektur tradisional Lampung umumnya terdiri dari bangunan tempat tinggal disebut Lamban, Lambahana atau Nuwou, bangunan ibadah yang disebut Mesjid, Mesigit, Surau, Rang Ngaji, atau Pok Ngajei, bangunan musyawarah yang disebut sesat atau bantaian, dan bangunan penyimpanan bahan makanan dan benda pusaka yang disebut Lamban Pamanohan

Rumah orang Lampung biasanya didirikan dekat sungai dan berjajar sepanjang jalan utama yang membelah kampung, yang disebut tiyuh. Setiap tiyuh terbagi lagi ke dalam beberapa bagian yang disebut bilik, yaitu tempat berdiam buway . Bangunan beberapa buway membentuk kesatuan teritorial-genealogis yang disebut marga. Dalam setiap bilik terdapat sebuah rumah klen yang besar disebut nuwou menyanak. Rumah ini selalu dihuni oleh kerabat tertua yang mewarisi kekuasaan memimpin keluarga.

Arsitektur lainnya adalah “lamban pesagi” yang merupakan rumah tradisional berbentuk panggung yang sebagian besar terdiri dari bahan kayu dan atap ijuk. Rumah ini berasal dari desa Kenali Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat.. Ada dua jenis rumah adat Nuwou Balak aslinya merupakan rumah tinggal bagi para Kepala Adat (penyimbang adat), yang dalam bahasa Lampung juga disebut Balai Keratun. Bangunan ini terdiri dari beberapa ruangan, yaitu Lawang Kuri (gapura), Pusiban (tempat tamu melapor) dan Ijan Geladak (tangga "naik" ke rumah); Anjung-anjung (serambi depan tempat menerima tamu), Serambi Tengah (tempat duduk anggota kerabat pria), Lapang Agung (tempat kerabat wanita berkumpul), Kebik Temen atau kebik kerumpu (kamar tidur bagi anak penyimbang bumi atau anak tertua), kebik rangek (kamar tidur bagi anak penyimbang ratu atau anak kedua), kebik tengah (yaitu kamar tidur untuk anak penyimbang batin atau anak ketiga).

Bangunan lain adalah Nuwou Sesat. Bangunan ini aslinya adalah balai pertemuan adat tempat para purwatin (penyimbang) pada saat mengadakan pepung adat (musyawarah). Karena itu balai ini juga disebut Sesat Balai Agung. Bagian bagian dari bangunan ini adalah ijan geladak (tangga masuk yang dilengkapi dengan atap). Atap itu disebut Rurung Agung. Kemudian anjungan (serambi yang digunakan untuk pertemuan kecil, pusiban (ruang dalam tempat musyawarah resmi), ruang tetabuhan (tempat menyimpan alat musik tradisional), dan ruang Gajah Merem ( tempat istirahat bagi para penyimbang) . Hal lain yang khas di rumah sesat ini adalah hiasan payung-payung besar di atapnya (rurung agung), yang berwarna putih, kuning, dan merah, yang melambangkan tingkat kepenyimbangan bagi masyarakat tradisional Lampung Pepadun.

Arsitek tradisinoal Lampung lainnya dapat ditemukan di daerah Negeri Olokgading, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung. Negeri Olokgading ini termasuk Lampung Pesisir Saibatin .Begitu memasuki Olokgading kita akan menjumpai jajaran rumah panggung khas Lampung Pesisir, dan di sanalah kita akan melihat Lamban Dalom Kebandaran Marga Olokgading, yang menjadi pusat adat istiadat Marga Balak Olokgading. Bangunan ini berbahan kayu dan di depan rumah berdiri plang nama bertuliskan “Lamban Dalom Kebandaran Marga Balak Lampung Pesisir”. Bentuknya sangat unik dan khas dengan siger besar berdiri megah di atas bangunan bagian muka .
Sampai sekarang lamban dalom ini ditempati kepala adat Marga Balak secara turun temurun.

Meskipun berada di perkotaan, fungsi rumah panggung tidak begitu saja hilang. Lamban Dalom Kebandaran Marga Balak berfungsi sebagai tempat rapat, musyawarah, begawi, dan acara-acara adat lain. Di Lamban Dalom ini ada siger yang berusia ratusan tahun, konon sudah ada sebelum Gunung Krakatau meletus. Siger yang terbuat dari bahan perak ini adalah milik kepala adat dan diwariskan secara turun temurun.Siger ini hanyalah salah satu artefak atau peninggalan budaya yang sudah ratusan tahun usianya disimpan oleh Marga Balak. Selain siger ada juga keris, pedang, tombak samurai, kain sarat( kain khas Lampung Pesisir seperti tapis), terbangan( alat musik pukul seperti rebana), dan tala(sejenis alat musik khas Lampung sejenis kulintang) dan salah satunya dinamakan Talo Balak.

(Dosen, Universitas Lampung/Mesium Lampung/IM)


12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
fidothok wrote on Dec 13, '06
kereen..ternyata satu propinsi di indo, dr segi budaya kayaknya melebihi budaya negara2 tetangga deh. apalagi indonesia..?? betul yach..??

pernah dengar Festival Krakatau..?? and Tari Sembah..?? kasih tau donk, biar q smakin tahu ttg 'Saibatin'.. :) :D :)
arishamzah wrote on Dec 13, '06
Festival KRAKATAU diadakan dalam rangka memperingati meletusnya Gunung Krakatau yang menggemparkan dunia. Festival Krakatau adalah salah cara Pemda Lampung untuk mengenalkan keanekaragaman budaya kepada dunia luar. Seni budaya, alam dan makanan khas Lampung bisa menjadi obyek pariwisata yang menarik.

Festival ini merupakan agenda tahunan yang diadakan setiap bulan Agustus, untuk tahun 2006 telah diadakan pada tanggal 25 sampai 30 Agustus yang lalu dan Ini festival yang ke-16.
Makanya siap-siaplah Anda untuk berkunjung ke Lampung pada bulan Agustus mendatang hehehee :)

TARI SEMBAH
Tari Sembah ini adalah salah satu tarian *sakral* dilampung, dan hanya tarikan pada saat menyambut Tamu Agung, tari ini ditarikan oleh gadis-gadis muda yang cantik, dengan mebawa dan menyodorkan sekapur sirih salah seorang penari mempersilahkan sang Tamu Agung mencicipi "sirih" tsb sebagai ungkapan Selamat Datang di Lampung.
fidothok wrote on Dec 13, '06
woow... jadi, dua2ny masuk kategori seni n budaya ya..

yg pasti, masih banyak lagi jenis tari n kesenian lain kan..?? katakanlah kalo dlm jawa, cth produk 'gambang suling'.

oia...kalo di lampung ada pertunjukan wayang kulit ngga ya..??
arishamzah wrote on Dec 13, '06, edited on Dec 13, '06
Pertunjukan wayang kulit ada diLampung,
Sperti tertulis diatas semboyan Lampung "Sang Bumi Rua Jurai" (Saburai) yg artinya satu Bumi/Rumah yg dihuni dengan dua suku/keturunan yaitu suku asli dan pendatang, nah salah satu suku pendatang yang terbesar di Lampung adalah suku Jawa....
Hal ini berkait erat dengan program pemindahan penduduk yang dikenal dengan kolonisasi pada jaman belanda. Program kolonisasi dimulai pada bulan November 1905, Ratusan KK berasal dari daerah Karanganyar, Kebumen dan Purworejo (waktu itu masuk karesidenan Kedu, Jawa Tengah), diberangkatkan menuju Gedong Tataan, sekitar 25 Km sebelah Barat Tanjung Karang karesidenan Lampung. Desa baru yang ditempati diberi nama Bagelen, nama salah satu desa asal untuk mengingatkan para kolonisasi agar mereka betah tinggal menetap di desa yang baru. Hinggal jaman Orde Baru program kolonisasi (transmigrasi) ini masih berjalan dan berkhir pada sekitar tahun 1980an

Nah jadi kalo kita lihat dari sejarahnya diatas ya sudah pasti pertunjukan "Wayang kulit" ada bahkan wayang Golek juga ada tapi tentunya pertunjukan tersebut sering diadakan pada daerah yg berpenduduk mayoritas jawa atau sunda

mentang2 hetsotnya wayang yg ditanya ttg "wayang kulit" :)
Mana niiih intannya kok malah diem ajaaaaaaa... capeeek
adeintan wrote on Dec 13, '06
Mana niiih intannya kok malah diem ajaaaaaaa... capeeek
Iyaaa ada apa ini intan disini hehehehe.....
Please deh yg tau silakan dijawab aja dan thanks untuk yang udah mejawab, kan ga harus intan yg jawab iya nggak siiiiiiiiiiih? :)
fidothok wrote on Dec 13, '06
hehe... nyrempet2 sdikit dg headshot boleh aza kan.. biar semarak wayangnya. :D

yah, harapan kita program kumpeni itu bs berlanjut, tentunya dg membawa perubahan kan...? yah, sebut aza 'kolonisasi.

di tahun gt karesidenan Kedu udah mengirimkan armada tempurnya yah..?? ternyata hebat yah daerahku..?? hehe, :)

wah, kalo nama Bagelen itu tak asing bagiku. coz, ada sebuah kota kecil d kab. purworejo dg nama bagelen. dan jg dengan bedug terbesarnya yg ada di masjid purworejo dg nama kyiai bagelen.

kapan yaah bisa nonton wayang sambil makan kacang bersama tetangga2q disitu..??

makasih infonya...:)
arishamzah wrote on Dec 13, '06
hehe... nyrempet2 sdikit dg headshot boleh aza kan.. biar semarak wayangnya. :D

yah, harapan kita program kumpeni itu bs berlanjut, tentunya dg membawa perubahan kan...? yah, sebut aza 'kolonisasi.

di tahun gt karesidenan Kedu udah mengirimkan armada tempurnya yah..?? ternyata hebat yah daerahku..?? hehe, :)

wah, kalo nama Bagelen itu tak asing bagiku. coz, ada sebuah kota kecil d kab. purworejo dg nama bagelen. dan jg dengan bedug terbesarnya yg ada di masjid purworejo dg nama kyiai bagelen.

kapan yaah bisa nonton wayang sambil makan kacang bersama tetangga2q disitu..??

makasih infonya...:)
Huuussstttt... kacang tetangga jagnan dimakan masss... :)
Ok makasih sami-sami
fidothok wrote on Dec 13, '06
itulah.. kan di perantauan.
katanya sih, kalo diperantauan itu meski tetangga tetep saudara.
so.. milik kita bersama. heits...

jg tangkap aku pak kpk..!! kita saudara..!! :D :D :D
liavantsi wrote on Dec 13, '06
Intan makasih ya udah upload bbrp data ttg budaya Lampung, tapi sayang informasi ttg Museum Lampung menurut saya kurang. Punya link situs untuk tau benda2 bersejarah di Lampung? Tentang rumah panggung, apakah Pemda mempunyai program pelestarian rumah adat? kalau saya lihat, sepertinya di Lampung sangat jarang rumah panggung, mungkin yang di daerah2 kampung msh banyak ya...
adeintan wrote on Dec 13, '06, edited on Dec 14, '06
Intan masih capek Oom/tante baru pulang dari renang di Unila sama teman2 juga sama Ibenk sepupunya Intan.
Waaahhh ...... rame sekali Oom banyak ikan duyungnya haaaa....haaaa
Trima kasih ya Ooom/tante sarannya buat Intan. Tentang keberadaan rumah-rumah panggung memang masih banyak terdapat khususnya di daerah-daerah yang penduduknya asli Lampung dan masih sangat teguh mempertahankan adat istiadat lampung
liavantsi wrote on Dec 13, '06
Trima kasih ya Ooom sarannya buat Intan. Tentang keberadaan rumah-rumah panggung memang masih banyak terdapat khususnya di daerah-daerah yang penduduknya asli Lampung dan masih sangat teguh mempertahankan adat istiadat lampung
OOM??? Oom yg mana nih? Saya?
I request for your re-name :D
next time, if you wanna comment on people, let's look at the background or some information about him/her ^_^
sila berkunjung ke rumah maya saya :)
adeintan wrote on Dec 15, '06
Haaa hii hiiii nanti kalo ada waktu liburan
Add a Comment